Pertamina meluncurkan video pendek berdurasi 1 menit untuk menyampaikan pesan penggunaan ponsel untuk kebaikan. Pesan ini diluncurkan untuk memperingati HUT 72 Tahun RI. Saat tulisan ini meluncur, postingan dari akun twitter @Pertamina per 13 Agustus 2017 itu telah dibagikan sebanyak 186 kali.

Video tersebut tersusun dari beberapa potongan cerita kebaikan yang beragam. Cerita pertama mengisahkan seorang pemuda yg memberikan sedekah ke petugas kebersihan di depan kafe. Dia yang tergesa-gesa keluar dari Kafe dan sempat hampir menabrak seorang wanita bernama Ria Mariska. Ria tampak kesal. Namun, saat ia berbalik badan, dia melihat apa yang sedang dilakukan pemuda itu. Ria dengan sigap mengeluarkan ponselnya dan digunakan untuk mengabadikan momen kebaikan yang dilihatnya. Dia membagikan video tersebut ke laman Facebooknya. Postingan dilengkapi keterangan video dengan caption “lihat kanan kiri, beri peduli #KobarkanKebaikan”. Berikutnya dia melakukan hal yang sama saat dia melihat seorang wanita membantu nenek-nenek menyebarang di jalan raya.

Semacam virus yang menginfeksi. Pesan #KobarkanKebaikan tersebar ke lingkaran pertemanan Ria. Tampak semakin banyak sahabatnya yang ikut mengabadikan dan membagikan momen kebaikan. Di akhir video, ditampilkan beberapa orang yang melakukan kebaikan seperti membantu menyeberangkan lansia di jalan raya dan menyediakan taman bacaan keliling.

Aksi kebaikan yang sangat sederhana, jika dibagikan dengan semangat #KobarkanKebaikan, ternyata mampu menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan.

Namun, aksi ini tentu tidak akan terasa dampaknya jika kita lakukan sendiri. Perlu upaya kerja bersama. Mengajak pada kebaikan melalui jejaring media sosial bisa menjadi alternatif di era kemajuan teknologi informasi saat ini.

Ide video pendek tersebut memang sangat kekinian. Tanggap dengan isu yang merebak dan membuat jagad ini terasa tidak nyaman. Ya, kemajuan teknologi tidak diimbangi dengan perilaku kita untuk saring informasi. Berita HOAX pun semacam jamur yang tumbuh subur di musim penghujan. Miris, banyak yang bercantum gelar seabrek di depan dan belakang namanya, namun tak berdaya dengan HOAX. Informasi berita dari sumber yang jauh dari kriteria valid dan reliable, tapi ditelan mentah-mentah. Semakin parah, karena informasi yang belum tentu terbukti kebenarannya pun dibagikan ke dinding Facebook. Apapun itu, jika isu dibungkus sentimen agama dan ras, berakhir dengan viral. Menyedihkan. Media sosial untuk silaturahmi menjadi ajang mengobarkan kebencian.

Semoga bisa menjadi bahan renungan dan instropeksi kita bersama.